“Bendera untuk Sang Pejuang “
***
Namaku Dewi Siskayanti,
hari ini adalah awal di bulan November, ya bulan yang istimewa tentunya apalagi
buat orang Surabaya yang biasa disebut kota Pahlawan. Tepatnya di tanggal 10
November nanti kita semua akan memperingati hari Pahlawan.. hmm gak sabar
menunggu hari itu.
Seperti biasa pagi ini
aku berangkat sekolah dengan mengendarai motor, tentunya setelah berpamitan
dengan kedua orang tuaku.
***
Teng teng teng teng,
bel sekolah berbunyi dan aku baru saja selesai memarkir motorku.
“Huft.. alhamdulilah
dech udah sampai. Hehe gak telat dech jadinya”, syukurku
“Assalamualikum.. “,
salamku ketika masuk kelas
“Waalaikumsalam dew,
tumben datang ngepas jam, biasanya paling pagi?” ,sapa Ardi
“Hehe iya nih agak
telat tadi bangunya aku” ,jawabku
Setelah beberapa saat
guru kimia yang paling killer disekolah pun masuk.
“Ayo anak-anak cepat
siapkan kertas dan alat tulis kalian, hari ini ibu akan mengadakan evaluasi
materi minggu lalu. Segera tasnya diletakkan di depan.”,oceh bu Ani
“Yah ibu kok ulangan
sich… ah gak seru ibu nich..”, omel anak-anak yang lain
“Kalo aku sih biasa
aja, mau ulangan ataupun enggak yah santai, kan aku udah belajar semalem.
Bismilah semoga lancar dech, amien.”, ujarku dalam hati sambil tersenyum
“Sstt sstt… dew dew,
nomer 1 apaan jawabnya? Sekalian sampe lima ya? Dew? “, Tanya shinta
“Duh nih anak ganggu
banget sih, bodo amat sama kamu. Baru juga nomer 1 udah nyontek, dasar cewek
modal penampilan doang.”, omelku dalam hati
45 menit pun berlalu
tapi aku udah selesai mengerjakan semua soal ulangan, aku pun celingukan
melihat yang lain. Hmm sepertinya teman-temanku juga bisa mengerjakan soalnya,
untung saja tidak terlalu sulit. Lalu pandangan mataku pun tertuju pada shinta,
hmm dia masih saja celingukan mencari contekan. Dasar.. mau jadi apa negeri ini
kalau semua generasi remajanya seperti dia, selalu saja malas dan mengandalkan
orang lain. Semoga saja orang seperti dia bisa cepat sadar dan berubah.
“Waktu habis, ayo ketua
kelas cepat kumpulkan dan taruh di meja ibu di kantor. Selamat pagi anak-anak”,
kata bu Ani
“Pagi bu..”, balas
anak-anak
***
Teng teng teng.. bel
pulang pun berbunyi, waktu masih menunjukan pukul 14.00 siang.
“Eh temen-temen ada
pengumuman, jangan pulang dulu. Pada tanggal 10 November nanti akan diadakan
upacara bendera memperingati hari pahlawan, dan semua siswa diwajibkan ikut
serta memakai baju pahlawan.”, kata agus ketua kelasku
“Oke gus.”, jawab
teman-teman
Aku pun langsung
bergegas pulang, rasanya badanku sudah capek sekali. Untung saja Surabaya siang
ini lagi sejuk-sejuknya, padahal biasanya duh panas banget. Rasanya dijalanan
tuh kayak kepanggang hidup-hidup. Setiap pulang sekolah aku selalu melewati
jalan mawar, selain hanya ini satu-satunya jalan pulang tetapi ada satu alasan
lagi kenapa aku sangat senang lewat sini. Ya rumah seberang jalan itulah yang
kumaksud, itu adalah rumah tua yang penghuninya belakangan ini baru aku tau
adalah seorang pejuang.
Aku ingin sekali masuk
kesana, berkenalan dengan bapak itu dan berbagi cerita tentang sejarah
Indonesia. Tapi aku tidak pernah berani, aku saja baru beberapa kali melihat
wajahnya. Mungkin besok minggu saja aku kembali lagi kesini.
***
“Bunda, tau gak tentang
bapak pejuang yang tinggal di jalan mawar itu?.”, tanyaku pada bunda
“Hmm.. bunda juga
pernah dengar sih tentang hal itu. Tapi bunda gak tau tuh siapa namanya, pernah
liat orangnya sekali sih pas lewat. Emang kenapa sayang?”, jawab bunda
“Gak apa-apa bun, aku
penasaran aja pengen tau. Soalnya aku lihatnya kok beliau selalu sendirian
ya?”, kataku
“Ya kamu datang aja lho
kerumahnya, kenalan dong. Masa’ gitu aja gak berani?,” tantang bunda
“Iya deh berani,
pokoknya kalo aku bisa datang dan kenalan sama bapak itu ke rumahnya, bunda
harus traktir aku makan eskrim sepuas aku.”, jawabku pada bunda
“Oke, siapa takut.
Hahaha.”, canda bunda
***
Pagi ini aku sengaja
untuk bangun pagi untuk sekalian jogging dan menjalankan rencanaku untuk
bertandang kerumah pak pejuang itu. Rumahnya terlihat sepi sekali, kok aku jadi
merinding gini yah.. pokoknya aku harus berani masuk. Bismillah..
“Selamat pagi pak!.”,
sapaku pada bapak pejuang itu
“Selamat pagi nak. Ada
apa ya?” tanyanya
“Tidak ada apa-apa pak,
perkenalkan saya dewi saya hanya ingin berbincang dengan bapak. Apakah saya
menganggu bapak?”, tanyaku
“Oh iya nak, tidak
nganggu kok. Nama bapak frans, tidak enak mengobrol diluar Ayo masuk ke dalam rumah.”, kata Pak Frans
“Terimakasih pak.”
Jawabku
Setelah lama berbincang
aku pun berpamitan pulang, ternyata Pak Frans orangnya baik juga, memang wajahnya
agak seram sih karena ada bekas sayatan-sayatan pisau gitu. Kata beliau sih
bekas sayatan pas perang dulu. Wah.. keren banget ya.
Di usianya yang renta
kurang lebih 85 tahun, Pak Frans hanya tinggal seorang diri. Sedangkan anaknya
tinggal di Sidoarjo dan hanya sesekali mengunjunginya. Rumah beliau sangat
sederhana, terbuat dari gedeg yang besar sekali. Di depan rumahnya ada dipan
dan meja kecil dan di pekarangan rumahnya ada sebuah tiang bendera, ya tiang
bendera yang berdiri kokoh dari bambu. Yah maklum saja namanya juga rumah zaman
dahulu, mungkin aku juga tidak akan betah tinggal disitu. Tetapi dengan
kesederhanaannya Pak Frans kelihatannya tak pernah mengeluh tinggal disana.
Tadi aku sempat
jalan-jalan mengelilingi rumahnya, keadaan sekitar sangat sepi sekali.
Tetangga-tetangga beliau sepertinya tidak terlalu saling memperhatikan satu
sama lain, buktinya setiap aku lewat sana selalu saja jalanan lengang. Dan tak
sengaja aku melihat sebuah kain yang tergeletak di meja rumah Pak Frans.
Ternyata itu adalah bendera, sudah usang sekali bahkan tidak lagi terlihat
bahwa itu adalah warna merah. Ya mungkin bendera itu sudah berusia puluhan
tahun.
Sepulang dari sana aku
langsung menuju kamarku, membuka dompet dan melihat jumlah tabunganku. Ya, aku
ingin membelikan pak Frans sebuah bendera baru, aku ingin beliau mengibarkannya
pada tanggal 10 November nanti menggantikan bendera usangnya. Semoga saja
uangku ini cukup.
Sejak saat itu aku
menjadi sering sekali berkunjung kerumahnya, aku kasihan dengan Pak Frans
karena beliau selalu sendirian dirumah. Disana aku banyak belajar tentang
sejarah bangsa, tentang arti dari patriotisme. Aku bersyukur mengenal beliau,
aku menjadi lebih mengerti sejarah kehidupan Indonesia, aku merasa bersalah
kepada negeriku. Aku cenderung acuh tak acuh dan lebih mementingkan diriku
sendiri.
***
“Eh, kamu besok ikut
upacara kan dew?”, Tanya Ardi
“Liat aja besok deh ya.
Hehe gak janji aku.”, jawabku pada Ardi
“Loh kan diabsen, ntar
kamu dihukum baru rasa.”, celoteh Ardi
Aku besok sebenarnya
mau ikut upacara dengan pak frans didepan rumahya, tapi gimana ya? Sebaiknya
aku segera pergi kerumahnya sekarang dech untuk memberikan bendera ini.
“Pak Frans.. Pak Frans..”,
panggilku didepan rumahnya
“Iya nak, ayo masuk.
Uhuk uhuk”, jawab Pak Frans
“Loh bapak sakit ya?”,
tanyaku
“Ah tidak nak, hanya
sedikit batuk. Ada apa kemari, ini kan sudah sore?”, jawab Pak Frans
“Mmm.. ini pak ada
sedikit kenang-kenangan dari saya untuk bapak. Mohon diterima ya pak.”, pintaku
“Ya Allah sebuah
bendera, alhamdulilah bendera bapak sudah using sekali. terimakasih ya nak,
bapak gak tau harus membalasnya dengan apa, kamu memang anak yang baik. Bapak
tidak akan pernah melupakan ini sampai bapak tiada sekalipun”, jawab Pak Frans
“Tidak usah berlebihan
pak, justru saya sangat berterima kasih pada bapak sudah mengajarkan banyak hal
pada saya. Saya pamit pulang pak. Cepat sembuh ya pak, besok saya kesini
lagi.”, pamitku pada Pak Frans
***
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Baru kali ini aku
terharu mendengar lagu Indonesia Raya, ya selama ini aku baru memahami betapa
dalam makna lagu ini. Terima kasih ya Allah. Setelah upacara selesai aku langsung
bergegas menuju rumah Pak Frans.
Aku terkejut ketika
sampai di depan rumahnya, terdapat bendera kuning. Innalilahi, Pak Frans telah
tiada Ya Allah ampunilah dosanya, semoga amal ibadahnya diterima disisi-Mu.
Tak terasa air mataku
menetes melihat bendera pemberianku sudah berkibar di tiang bendera milik Pak Frans.
Terima kasih ya Allah engkau telah mempertemukan aku dengan beliau, engkau
telah memberiku kesempatan untuk membahagiakan beliau di saat terakhirnya.
Aku jadi teringat pembicaraanku dengan Pak Frans
kemarin..
“Lalu apa yang bisa
saya lakukan pak, toh saya masih anak SMA yang tidak berdaya untuk melakukan
apa-apa untuk negeri saya?”, tanyaku pada Pak Frans
“Kamu salah, sekolah
pun sudah termasuk berperang. Yaitu berperang melawan kebodohan. Kamu masih
bisa merubah dirimu, memperbaiki moralmu dan menegakkan disiplin pada
kehidupanmu.”, jawab Pak Frans
“Tanah air ini begitu
berharga nak, jangan pernah kamu sia-siakan. Begitupun dengan bendera ini,
pertahankanlah dia, selalu kibarkan dia di tiangnya dan di hatimu nak.”, pesan
Pak Frans
Ya Allah, terimakasih
atas anugerahmu ini. Aku berjanji mulai hari ini akan selalu berbuat baik dan
menegakkan disiplin. Aku akan selalu berusaha memperbaiki diriku untuk negaraku
tercinta Indonesia.
“Terima kasih Allah,
terima kasih Pak Frans..”, bisikku pelan
***TAMAT***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar