Translate

Senin, 26 November 2012

cerpen liburan :)



“Bendera untuk Sang Pejuang “
***
Namaku Dewi Siskayanti, hari ini adalah awal di bulan November, ya bulan yang istimewa tentunya apalagi buat orang Surabaya yang biasa disebut kota Pahlawan. Tepatnya di tanggal 10 November nanti kita semua akan memperingati hari Pahlawan.. hmm gak sabar menunggu hari itu.
Seperti biasa pagi ini aku berangkat sekolah dengan mengendarai motor, tentunya setelah berpamitan dengan kedua orang tuaku.
***
Teng teng teng teng, bel sekolah berbunyi dan aku baru saja selesai memarkir motorku.
“Huft.. alhamdulilah dech udah sampai. Hehe gak telat dech jadinya”, syukurku
“Assalamualikum.. “, salamku ketika masuk kelas
“Waalaikumsalam dew, tumben datang ngepas jam, biasanya paling pagi?” ,sapa Ardi
“Hehe iya nih agak telat tadi bangunya aku” ,jawabku
Setelah beberapa saat guru kimia yang paling killer disekolah pun masuk.
“Ayo anak-anak cepat siapkan kertas dan alat tulis kalian, hari ini ibu akan mengadakan evaluasi materi minggu lalu. Segera tasnya diletakkan di depan.”,oceh bu Ani
“Yah ibu kok ulangan sich… ah gak seru ibu nich..”, omel anak-anak yang lain
“Kalo aku sih biasa aja, mau ulangan ataupun enggak yah santai, kan aku udah belajar semalem. Bismilah semoga lancar dech, amien.”, ujarku dalam hati sambil tersenyum
“Sstt sstt… dew dew, nomer 1 apaan jawabnya? Sekalian sampe lima ya? Dew? “, Tanya shinta
“Duh nih anak ganggu banget sih, bodo amat sama kamu. Baru juga nomer 1 udah nyontek, dasar cewek modal penampilan doang.”, omelku dalam hati
45 menit pun berlalu tapi aku udah selesai mengerjakan semua soal ulangan, aku pun celingukan melihat yang lain. Hmm sepertinya teman-temanku juga bisa mengerjakan soalnya, untung saja tidak terlalu sulit. Lalu pandangan mataku pun tertuju pada shinta, hmm dia masih saja celingukan mencari contekan. Dasar.. mau jadi apa negeri ini kalau semua generasi remajanya seperti dia, selalu saja malas dan mengandalkan orang lain. Semoga saja orang seperti dia bisa cepat sadar dan berubah.
“Waktu habis, ayo ketua kelas cepat kumpulkan dan taruh di meja ibu di kantor. Selamat pagi anak-anak”, kata bu Ani
“Pagi bu..”, balas anak-anak
***
Teng teng teng.. bel pulang pun berbunyi, waktu masih menunjukan pukul 14.00 siang.
“Eh temen-temen ada pengumuman, jangan pulang dulu. Pada tanggal 10 November nanti akan diadakan upacara bendera memperingati hari pahlawan, dan semua siswa diwajibkan ikut serta memakai baju pahlawan.”, kata agus ketua kelasku
“Oke gus.”, jawab teman-teman
Aku pun langsung bergegas pulang, rasanya badanku sudah capek sekali. Untung saja Surabaya siang ini lagi sejuk-sejuknya, padahal biasanya duh panas banget. Rasanya dijalanan tuh kayak kepanggang hidup-hidup. Setiap pulang sekolah aku selalu melewati jalan mawar, selain hanya ini satu-satunya jalan pulang tetapi ada satu alasan lagi kenapa aku sangat senang lewat sini. Ya rumah seberang jalan itulah yang kumaksud, itu adalah rumah tua yang penghuninya belakangan ini baru aku tau adalah seorang pejuang.
Aku ingin sekali masuk kesana, berkenalan dengan bapak itu dan berbagi cerita tentang sejarah Indonesia. Tapi aku tidak pernah berani, aku saja baru beberapa kali melihat wajahnya. Mungkin besok minggu saja aku kembali lagi kesini.
***
“Bunda, tau gak tentang bapak pejuang yang tinggal di jalan mawar itu?.”, tanyaku pada bunda
“Hmm.. bunda juga pernah dengar sih tentang hal itu. Tapi bunda gak tau tuh siapa namanya, pernah liat orangnya sekali sih pas lewat. Emang kenapa sayang?”, jawab bunda
“Gak apa-apa bun, aku penasaran aja pengen tau. Soalnya aku lihatnya kok beliau selalu sendirian ya?”, kataku
“Ya kamu datang aja lho kerumahnya, kenalan dong. Masa’ gitu aja gak berani?,” tantang bunda
“Iya deh berani, pokoknya kalo aku bisa datang dan kenalan sama bapak itu ke rumahnya, bunda harus traktir aku makan eskrim sepuas aku.”, jawabku pada bunda
“Oke, siapa takut. Hahaha.”, canda bunda
***
Pagi ini aku sengaja untuk bangun pagi untuk sekalian jogging dan menjalankan rencanaku untuk bertandang kerumah pak pejuang itu. Rumahnya terlihat sepi sekali, kok aku jadi merinding gini yah.. pokoknya aku harus berani masuk. Bismillah..
“Selamat pagi pak!.”, sapaku pada bapak pejuang itu
“Selamat pagi nak. Ada apa ya?” tanyanya
“Tidak ada apa-apa pak, perkenalkan saya dewi saya hanya ingin berbincang dengan bapak. Apakah saya menganggu bapak?”, tanyaku
“Oh iya nak, tidak nganggu kok. Nama bapak frans, tidak enak mengobrol diluar  Ayo masuk ke dalam rumah.”, kata Pak Frans
“Terimakasih pak.” Jawabku
Setelah lama berbincang aku pun berpamitan pulang, ternyata Pak Frans orangnya baik juga, memang wajahnya agak seram sih karena ada bekas sayatan-sayatan pisau gitu. Kata beliau sih bekas sayatan pas perang dulu. Wah.. keren banget ya.
Di usianya yang renta kurang lebih 85 tahun, Pak Frans hanya tinggal seorang diri. Sedangkan anaknya tinggal di Sidoarjo dan hanya sesekali mengunjunginya. Rumah beliau sangat sederhana, terbuat dari gedeg yang besar sekali. Di depan rumahnya ada dipan dan meja kecil dan di pekarangan rumahnya ada sebuah tiang bendera, ya tiang bendera yang berdiri kokoh dari bambu. Yah maklum saja namanya juga rumah zaman dahulu, mungkin aku juga tidak akan betah tinggal disitu. Tetapi dengan kesederhanaannya Pak Frans kelihatannya tak pernah mengeluh tinggal disana.
Tadi aku sempat jalan-jalan mengelilingi rumahnya, keadaan sekitar sangat sepi sekali. Tetangga-tetangga beliau sepertinya tidak terlalu saling memperhatikan satu sama lain, buktinya setiap aku lewat sana selalu saja jalanan lengang. Dan tak sengaja aku melihat sebuah kain yang tergeletak di meja rumah Pak Frans. Ternyata itu adalah bendera, sudah usang sekali bahkan tidak lagi terlihat bahwa itu adalah warna merah. Ya mungkin bendera itu sudah berusia puluhan tahun.
Sepulang dari sana aku langsung menuju kamarku, membuka dompet dan melihat jumlah tabunganku. Ya, aku ingin membelikan pak Frans sebuah bendera baru, aku ingin beliau mengibarkannya pada tanggal 10 November nanti menggantikan bendera usangnya. Semoga saja uangku ini cukup.
Sejak saat itu aku menjadi sering sekali berkunjung kerumahnya, aku kasihan dengan Pak Frans karena beliau selalu sendirian dirumah. Disana aku banyak belajar tentang sejarah bangsa, tentang arti dari patriotisme. Aku bersyukur mengenal beliau, aku menjadi lebih mengerti sejarah kehidupan Indonesia, aku merasa bersalah kepada negeriku. Aku cenderung acuh tak acuh dan lebih mementingkan diriku sendiri.
***
“Eh, kamu besok ikut upacara kan dew?”, Tanya Ardi
“Liat aja besok deh ya. Hehe gak janji aku.”, jawabku pada Ardi
“Loh kan diabsen, ntar kamu dihukum baru rasa.”, celoteh Ardi
Aku besok sebenarnya mau ikut upacara dengan pak frans didepan rumahya, tapi gimana ya? Sebaiknya aku segera pergi kerumahnya sekarang dech untuk memberikan bendera ini.
“Pak Frans.. Pak Frans..”, panggilku didepan rumahnya
“Iya nak, ayo masuk. Uhuk uhuk”, jawab Pak Frans
“Loh bapak sakit ya?”, tanyaku
“Ah tidak nak, hanya sedikit batuk. Ada apa kemari, ini kan sudah sore?”, jawab Pak Frans
“Mmm.. ini pak ada sedikit kenang-kenangan dari saya untuk bapak. Mohon diterima ya pak.”, pintaku
“Ya Allah sebuah bendera, alhamdulilah bendera bapak sudah using sekali. terimakasih ya nak, bapak gak tau harus membalasnya dengan apa, kamu memang anak yang baik. Bapak tidak akan pernah melupakan ini sampai bapak tiada sekalipun”, jawab Pak Frans
“Tidak usah berlebihan pak, justru saya sangat berterima kasih pada bapak sudah mengajarkan banyak hal pada saya. Saya pamit pulang pak. Cepat sembuh ya pak, besok saya kesini lagi.”, pamitku pada Pak Frans
***
Indonesia tanah airku
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku
Bangsa dan Tanah Airku
Marilah kita berseru
Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku
Hiduplah negriku
Bangsaku Rakyatku semuanya
Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Tanahku negriku yang kucinta
Indonesia Raya
Merdeka Merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Baru kali ini aku terharu mendengar lagu Indonesia Raya, ya selama ini aku baru memahami betapa dalam makna lagu ini. Terima kasih ya Allah. Setelah upacara selesai aku langsung bergegas menuju rumah Pak Frans.
Aku terkejut ketika sampai di depan rumahnya, terdapat bendera kuning. Innalilahi, Pak Frans telah tiada Ya Allah ampunilah dosanya, semoga amal ibadahnya diterima disisi-Mu.
Tak terasa air mataku menetes melihat bendera pemberianku sudah berkibar di tiang bendera milik Pak Frans. Terima kasih ya Allah engkau telah mempertemukan aku dengan beliau, engkau telah memberiku kesempatan untuk membahagiakan beliau di saat terakhirnya.
Aku  jadi teringat pembicaraanku dengan Pak Frans kemarin..
“Lalu apa yang bisa saya lakukan pak, toh saya masih anak SMA yang tidak berdaya untuk melakukan apa-apa untuk negeri saya?”, tanyaku pada Pak Frans
“Kamu salah, sekolah pun sudah termasuk berperang. Yaitu berperang melawan kebodohan. Kamu masih bisa merubah dirimu, memperbaiki moralmu dan menegakkan disiplin pada kehidupanmu.”, jawab Pak Frans
“Tanah air ini begitu berharga nak, jangan pernah kamu sia-siakan. Begitupun dengan bendera ini, pertahankanlah dia, selalu kibarkan dia di tiangnya dan di hatimu nak.”, pesan Pak Frans
Ya Allah, terimakasih atas anugerahmu ini. Aku berjanji mulai hari ini akan selalu berbuat baik dan menegakkan disiplin. Aku akan selalu berusaha memperbaiki diriku untuk negaraku tercinta Indonesia.
“Terima kasih Allah, terima kasih Pak Frans..”, bisikku pelan

***TAMAT***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar